BAB
II
KONSEP
DASAR
- PENGERTIAN
Tuberculosis paru
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dengan
gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer, 2007).
Tuberculosis paru
adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang biasanya
ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang ke orang dan
mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus (Corwin, 2009).
Tuberculosis
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium
Tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi juga mengenai
organ tubuh lainnya (Depkes RI,2007).
- ETIOLOGI
Penyebab
tuberkulosis adalah Myobacterium tuberculosae, sejenis kuman berbentuk
batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um. Tergolong dalam kumanMyobacterium
tuberculosae complex adalah :
1. M.
Tuberculosae
2. Varian
Asian
3. Varian
African I
4. Varian
African II
5. M.
bovis.
Sebagian besar
kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih
tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA)
dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan
hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun
dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman bersifat dormant,
tertidur lama selama bertahun-tahun dan dapat bangkit kembali menjadikan
tuberkulosis aktif lagi. Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit
intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula
memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid.
Cara penularan TB (Depkes, 2007)
-
Sumber penularan
adalah pasien TB BTA positif.
-
Pada waktu batuk atau
bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet
nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
-
Umumnya penularan
terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.
Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung
dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan
yang gelap dan lembab.
-
Daya penularan seorang
pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin
tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien
tersebut.
-
Faktor yang
memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan
dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut
- PATOFISIOLOGI
Mycobacterium tuberculosis yang
biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang ke orang
dan mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus. Apabila bakteri tuberculin dalam
jumlah yang bermakna berhasil menembus mekanisme pertahanan sistem pernapasan dan
berhasil menempati saluran napas bawah, maka pejamu akan melakukan respons imun
dan peradangan yang kuat. Karena respons yang hebat ini, akibat diperantarai
oleh sel T, maka hanya sekitar 5 % orang yang terpajan basil tersebut menderita
tuberculosis aktif. Penderita TBC yang bersifat menular bagi orang lain adalah
mereka yang mengidap infeksi tuberculosis aktif dan hanya pada masa infeksi
aktif.
Basil mycobacterium tuberculosis
sangat sulit dimatikan apabila telah mengkolonisasi saluran nafas bawah, maka
tujuan respons imun adalah lebih untuk mengepung dan mengisolasi basil bukan
untuk mematikannya. Respons selular melibatkan sel T serta makrofag. Makrofag
mengelilingi basil diikuti oleh sel T dan jaringan fibrosa membungkus kompleks
makrofag basil tersebut. Tuberkel akhirnya mengalami kalsifikasi dan disebut
kompleks Ghon, yang dapat dilihat pada pemeriksaan sinar-x toraks. Sebelum
ingesti bakteri selesai, bahan mengalami perlunakan (perkijuan).
Mikro-organisme hidup dapat memperoleh akses ke sistem trakeobronkus dan
menyebar melalui udara ke orang lain. Bahkan walaupun telah dibungkus secara
efektif, basil dapat bertahan hidup dalam tuberkel.
Apabila partikel infeksi terisap oleh
orang sehat, akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman menetap di
jaringan paru akan bertumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di
sini kuman dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di
jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan
disebut sarang primer.
Basil tuberkel yang mencapai
permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari
satu sampai tiga basil. Gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di
salurang hidung dan cabang besar bronkus. Basil tuberkel ini membangkitkan
reaksi peradangan.
Kerusakan pada paru akibat infeksi
adalah disebabkan oleh basil serta reaksi imun dan peradangan yang hebat. Edema
interstisium dan pembentukan jaringan parut permanen di alveolus meningkatkan
jarak untuk difusi oksigen dan karbondioksida sehingga pertukaran gas
menurun.(Corwin, 2009)
Pathway
Droplet nucler/dahak
yang mengandung

|
|

|
|
|
|
|
|
|

|

![]() |
|||||
![]() |
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

- MANIFESTASI KLINIK
Gejala utama TB
paru menurut Mansjoer (2007) adalah:
1.
Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam
influenza, tapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40 – 41oC.
serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul
kembali. Begitulah seterusnya sehingga pasien tidak pernah terbebas dari demam
influenza ini.
2. Batuk/Batuk
Darah
Batuk terjadi karena adanya iritasi
pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar,
sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah muncul
peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah
berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
3. Sesak
nafas
Pada penyakit yang ringan (baru
tumbuh) belum dirasakan sesak nafas. Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit
yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
4.
Nyeri dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi
radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan
kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.
5.
Maleise
Gejala maleise sering ditemukan
berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala,
meriang, nyeri otot, dan berkeringat malam hari tanpa aktifitas. Gejala malaie
ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
- PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Mansjoer (1999 hal. 472 )
pemeriksaan penunjang pada Tuberculosis paru antara lain:
1. Anamnesis
dan pemeriksaan fisik.
2.
Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat,
Limfositosis)
3.
Foto toraks Postereor Anterior (PA) dan lateral.
Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis tuberculosis, yaitu:
a. Bayang
lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah.
b. Bayangan
berawan (patchy) berbercak (nodular).
c. Adanya
kavitas, tunggal atau ganda.
d. Kelainan
bilateral, terutama di lapangan atas paru.
e. Adanya
kalsifikasi.
f. Bayangan
menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.
g. Bayangan
milier.
4.
Pemeriksaan sputum BTA
Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis
TB paru, namun pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30 – 70% pasien TB
yang dapat di diagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.
5.
Tes PAP (Peroksislase anti Peroksidase)
Merupakan uji
serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staining untuk
menentukan adanya lg 6 spesifik terhadap basil TB.
6. Tes
Mantoux/Tuberkulin
7. Teknik
Polymerase Chain Reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik
melalui amplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun
hanya ada satu mikroorganisme dalam spesimen.
8.
Becton Dikinson Diagnotic Instrumen System (BACTEC)
Deteksi Growth Index berdasarkan CO2
yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh Mycobacterium
Tuberculosis.
9. Mycodot
Deteksi antibodi
memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatu alat berbentuk
sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam serum pasien. Bila terdapat antibodi
spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan berubah.
- KOMPLIKASI
Komplikasi yang
mungkin muncul akibat TBC antara lain (Depkes, 2007)
1.
Hemoptisis
2.
Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial
3.
Bronkiektasis
4. Pneumotorak
5.
Penyebaran infeksi ke organ lain
6.
Insufisiensi cardio pulmoner
- PENATALAKSANAAN
Menurut Mansjoer (1999 hal 473)
penatalaksanaan pada tuberculosis paru antara lain
1.
Obat anti TB (OAT)
OAT harus di berikan dalam kombinasi
sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisi dengan atau tanpa obat ketiga.
Tujuan pemberian
OAT, antara lain:
a. Membuat
konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan
bekterisid.
b. Mencegah
kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi.
c. Menghilangkan
atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis.
2.
Pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase, yaitu:
a.
Fase awal intensif, dengan kegiatan bekterisid untuk
memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat.
b.
Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada
pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan
konvensional.
OAT yang biasa
digunakan antara lain Isoniazid (INH), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan
Steptomosin (S) yang bersifat bekterisid dan etambutol yang bersifat
bakteriostatik.
3.
Panduan OAT pada TB paru (WHO 1993)
|
Panduan OAT
|
Klasifikasi dan
Tipe Penderita
|
Fase Awal
|
Fase Lanjutan
|
|
Kategori 1
Kategori 2
Kategori 3
|
H. BTA
(+) baru
I. Sakit
berat: BTA (-) luar paru
Pengobatan Ulang:
J. Kambuh
BTA (+)
K. Gagal
L.TB paru BTA (-)
M. TB
luar paru
|
2 HRZS (E)
2 RHZS (E)
2 RHZES/1 RHZE
2 RHZES/1 RHZE
2 RHZ
2 RHZ/2 R3H3Z3
|
4 RH
4 R3H3
5 RHE
5 R3H3E3
4 RH
4 R3H3
|
Keterangan:
4 HRZ :
Tiap hari selama 2 bulan
4 RH: Tiap hari selama 4 bulan
4 H3R3: 3 kali seminggu selama 4 bulan
H.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Menurut Doengoes (2000 hal 240) data
dasar pengkajian pasien antara lain:
a. Aktivitas/istirahat
Gejala:
1) Kelelahan
umum dan kelemahan
2) Nafas
pendek karena kerja
3) Kesulitan
tidur pada malam hari
Tanda:
1) Takikardi,
takipnea/dispnea pada kerja.
2) Kelelahan
otot, nyeri dan sesak.
b. Integritas
Ego
Gejala:
1) Adanya/faktor
stress lama.
2) Perasaan
tak berdaya/tidak ada harapan.
Tanda:
1) Menyangkal
2) Ansietas,
ketakutan, mudah terangsang.
c. Makanan/cairan
Gejala:
1) Kehilangan
nafsu makan.
2) Penurunan
berat badan.
Tanda:
Tugor kulit buruk, kering/kulit
bersisik.
d. Nyeri/kenyamanan
Gejala:
Nyeri dada meningkat karena batuk
berulang
Tanda:
Berhati - hati pada area yang sakit.
e. Pernafasan
Gejala
1) Batuk,
produktif atau tak produktif.
2) nafas
pendek
Tanda:
1) Peningkatan
frekuensi pernafasan.
2) Karakteristik
sputum: hijau/purulen, mukoid kuning atau bercak merah.
f. Keamanan
Gejala:
Adanya penekanan imun.
Tanda:
Demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi
sosial
Gejala:
1) Perasaan
isolasi/penolakan karena penyakit menular.
2) Perubahan
pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan
peran.
h. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala:
1) Riwayat
keluarga TB.
2) Ketidakmampuan
umum/status kesehatan buruk.
3) Rencana
pemulangan Memerlukan bantuan dengan/gangguan dalam terapi obat dan
pemeliharaan/perawatan rumah.
2. Diagnosa
& Fokus Intervensi
Menurut Doengoes (2000) diagnosa
keperawatan yang mungkin muncul pada kasus tuberculosis paru adalah sebagai
berikut
a. Resiko tinggi
infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tak adekuat penurunan kerja silia.
Kriteria hasil: Menurunkan resiko
penyebaran infeksi.
Intervensi:
1)
Kaji potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara
selama batuk, bersin, meludah.
Rasional : Sebagai
pemahaman kepada pasien/orang terdekat untuk mencegah infeksi ke orang lain.
2)
Identifikasi orang yang beresiko.
Rasional : Orang –
orang yang terpajan perlu program terapi obat untuk mencegah
penyebaran/terjadinya infeksi.
3)
Anjurkan pasien
untuk batuk/bersin mengeluarkan ludah dengan tissue.
Rasional : Perilaku
yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi.
4)
Awasi suhu sesuai indikasi.
Rasional: Reaksi demam indikator adanya
infeksi lanjut.
5)
Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat.
Rasional : Periode
singkat berakhir 2 – 3 hari setelah kemoterapi awal, resiko penyebaran infeksi
berlanjut sampai 3 bulan.
6)
Dorong memilih makanan seimbang.
Rasional : Adanya
anoreksia dan malnutrisi sebelumnya merendahkan tahanan terhadap proses infeksi
dan mengganggu penyembuhan.
b.
Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan
dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema
trakeal.
- Kriteria
hasil
Mempertahankan
jalan nafas pasien, mengeluarkan sekret tanpa bantuan, menunjukkan perilaku
untuk mempertahankan bersihan jalan nafas, berpartisipasi dalam program
pengobatan.
- Intervensi
1) Catat
kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif karakter, jumlah sputum,
adanya hemoptisis.
Rasional : Sputum
berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru
atau luka bronchial dan dapat memerlukan intervensi lanjut.
2) Berikan
posisi semi fowler/fowler tinggi, bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas
dalam.
Rasional : Posisi
membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan.
3) Bersihkan
sekret dari mulut dan trachea.
Rasional : Mencegah
obstruksi/aspirasi
4) Pertahankan
makanan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi.
Rasional : Pemasukan
tinggi cairan membantu mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.
c.
Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas
berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, obstruksi jalan nafas.
- Kriteria
hasil
Melaporkan
tidak adanya/penurunan dispnea, menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigen
jaringan adekuat dengan Gas Analisa Darah (GDA) dalam rentang normal, bebas
dari gejala distress pernapasan.
- Intervensi
1) Kaji
dispnea, takipnea, menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan,
terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan.
Rasional : TB paru
menyebabkan efek luar pada paru dari bagian kecil bronkopneumonia sampai
inflamasi difus luas.
2) Tunjukkan/dorong bernafas bibir
selam ekshalasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan
parenkim.
Rasional : Membuat
tahapan melawan udara luar, untuk mencegah penyempitan jalan nafas sehingga
membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan/menurunkan nafas
pendek.
3)
Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri
sesuai keperluan.
Rasional : Menurunkan
konsumsi O2/kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan
beratnya gejala.
d.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kelemahan, sering batuk/produksi sputum, dispnea, anoreksia,
ketidakcukupan sumber keuangan.
Kriteria hasil
Menunjukkan
BB meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda
malnutrisi, melakukan perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat yang
tepat.
Intervensi
1)
Catat status nutrisi: turgor, kulit, BB, integritas
mukosaoral, adanya tonus usus, mual/muntah atau diare.
2)
Pastikan pola diet biasa pasien yang disukai/tidak
disukai.
Rasional : Membantu
dalam mengidentifikasi kebutuhan/kekuatan khusus.
3)
Awasi input/out put dan BB secara periodik.
Rasional : Berguna
dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
4)
Selidiki anoreksia, mual, muntah, frekuensi, volume dan
konsistensi feses.
Rasional : Dapat
mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan untuk
meningkatkan pemasukan/penggunaan nutrien.
5)
Dorong/berikan periode istirahat sering.
Rasional : Membantu
menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam.
6)
Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan
pernafasan.
Rasional : Menurunkan
rasa tak enak karena sisa sputum atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang
pusat muntah.
7)
Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi
protein dan karbohidrat.
Rasional : Memaksimalkan
masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/kebutuhan energi dari makan
makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster.
e.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan
dan pencegahan berhubungan dengan kurang informasi, keterbatasan kognitif, tak
akurat/tak lengkap informasi yang ada.
Kriteria
hasil
1)
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan kebutuhan
pengobatan.
2)
Melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki
kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang TB.
3)
Mengidentifikasi gejala yang memerlukan
evaluasi/intervensi.
4)
Menggambarkan rencana untuk menerima perawatan
kesehatan adekuat
Intervensi
1) Kaji
kemampuan pasien untuk belajar.
Rasional : Belajar
tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan tingkatkan pada tahapan individu.
2) Identifikasi
gejala: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan
pendengaran, vertigo.
Rasional : Menunjukkan
kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan
evaluasi lanjut.
3) Tekankan
pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan
cairan adekuat.
Rasional : Memenuhi
kebutuhan metabolisme membantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan
penyembuhan, cairan dapat mengencerkan/mengeluarkan sekret.
4) Jelaskan
dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan
lama.
Rasional : Meningkatkan
kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai
perbaikan kondisi pasien.
5) Kaji
potensi efek samping pengobatan
Rasional : Mencegah/menurunkan
ketidaknyamanan sehubungan terapi dan meningkatkan kerjasama dalam program.
DAFTAR PUSTAKA
Bunner & suddarth. 2002. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta : EGC
Carpenito, L.J.
2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada
Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta: EGC
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku
Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis.Depkes RI : Jakarta.
Mansjoer. A dkk. 2007. Kapita Selekta
Kedokteran, Jilid 1 edisi 3, Jakarta : Media Aesculapius.
Santosa, Budi. 2007. Panduan
Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika


Komentar
Posting Komentar